Jim.my.id Fiksi

Tiga Tahap Perasaan

Tiga Tahap Perasaan

Jim.my.id – Di sebuah kota kecil yang dikelilingi oleh pegunungan hijau, hiduplah seorang pemuda bernama Andra. Dia adalah seorang seniman muda yang setiap hari menghabiskan waktunya melukis pemandangan indah di sekitar kotanya. Suatu hari, saat sedang mencari inspirasi di pasar lokal, pandangannya tertuju pada seorang gadis yang sedang memilih bunga di kios bunga. Gadis itu bernama Nira. Andra merasa ada yang berbeda ketika melihat senyumnya. Dia merasa tertarik, tapi belum tahu apa yang dia rasakan sepenuhnya. Ini adalah tahap yang pertama; SUKA.

Setiap hari, Andra kembali ke pasar, berharap bisa melihat Nira lagi. Dia mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang Nira: cara dia tertawa, cara dia berbicara dengan penjual bunga, dan bahkan cara dia menata rambutnya. Namun, Andra hanya berdiri di kejauhan, terlalu malu untuk mendekat. Hingga suatu hari,

“Maaf, bolehkah saya melukis Anda?” tanya Andra dengan gugup saat Nira sedang memilih bunga.

Nira tersenyum lembut dan menjawab, “Tentu, mengapa tidak?”

Hari demi hari, mereka mulai menghabiskan waktu bersama. Andra melukis Nira dalam berbagai suasana: di taman, di tepi sungai, dan di bawah pohon besar di pinggir kota. Mereka mulai berbicara tentang segala hal: mimpi, harapan, dan kenangan masa kecil. Keduanya mulai merasa nyaman dengan kehadiran masing-masing. Mereka bisa berbicara tentang apapun tanpa rasa takut dihakimi. Ini adalah tahap yang kedua; NYAMAN.

Suatu malam, saat bulan purnama menyinari, mereka duduk di bukit yang menghadap ke kota. Nira berbicara tentang impian besarnya untuk membuka toko bunga sendiri dan mendistribusikan bunga ke seluruh negeri. Andra, yang mendengarkan dengan seksama, menyadari sesuatu yang lebih dalam dari sekedar suka dan nyaman, yakni CINTA; ini tahapan ketiga.

“Aku akan mendukungmu, Nira. Apa pun yang terjadi,” kata Andra dengan tulus.

Nira menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih, Andra. Kamu selalu ada untukku.”


Waktu berlalu, dan hubungan mereka semakin erat. Andra menyadari bahwa dia tidak hanya menyukai dan merasa nyaman dengan Nira, tetapi dia mencintainya. NIra juga tampak seperti itu. Cinta ini bukan hanya tentang perasaan hangat saat bersama, tetapi juga tentang keinginan untuk mendukung impian Nira, untuk berada di sisinya dalam suka dan duka, dan untuk berkorban demi kebahagiaannya.

Suatu hari, ketika Nira berhasil membuka toko bunganya, Andra berdiri di sana dengan sebuah lukisan di tangannya. Lukisan itu adalah gambaran Nira yang pertama kali dia lukis di pasar, dengan tambahan sebuah toko bunga di latar belakang.

“Aku mencintaimu, Nira. Aku ingin selalu ada di sampingmu, dalam setiap langkahmu,” kata Andra sambil menyerahkan lukisan itu.

Nira tersenyum lembut, namun ada kesedihan dalam matanya. “Andra, aku harus memberitahumu sesuatu.”

Andra merasa jantungnya berdebar kencang. “Apa itu, Nira?”

Nira menghela napas dalam-dalam. “Aku bertemu dengan seseorang, namanya Arka. Dia datang ke toko bungaku beberapa bulan lalu dan kami menjadi dekat. Aku… aku mencintainya, Andra.”

Dunia Andra seakan runtuh mendengar kata-kata itu.

Nira menggenggam tangan Andra dengan lembut. “Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Aku harap kamu bisa mengerti.”

Andra diam saja dan menundukkan kepalanya. “Aku mengerti, Nira. Yang terpenting adalah kebahagiaanmu. Aku akan selalu mendukungmu, apapun yang terjadi.”

Dengan hati yang hancur, Andra melangkah menjauh, meninggalkan lukisan itu sebagai kenangan tentang cinta yang tak sampai. Dia tahu bahwa meskipun Nira memilih orang lain, perasaannya padanya adalah cinta yang tulus dan ikhlas. Dia memilih untuk menghargai kebahagiaan Nira di atas segalanya.


Beberapa tahun telah berlalu sejak Nira memilih Arka. Kota kecil itu terus berkembang, dan kehidupan berjalan seperti biasanya. Andra tetap melukis, namun hatinya masih menyimpan kenangan tentang Nira. Dia telah belajar menerima kenyataan, meskipun rasa sakit itu masih ada. Sementara itu, Nira menjalani kehidupannya bersama Arka. Mereka menikah dan menjalankan toko bunga yang kini semakin sukses.

Namun, di balik senyuman Nira, ada perasaan yang selalu menghantuinya. Dia sering merenung, merasakan kekosongan yang tidak bisa dia jelaskan. Arka adalah suami yang baik, tetapi Nira mulai menyadari bahwa hubungan mereka tidak memiliki kedalaman yang dia butuhkan. Hubungan mereka berkembang dari suka menjadi cinta tanpa melewati tahap nyaman, dan hal ini mulai mempengaruhi pernikahan mereka.

Suatu hari, Nira memutuskan untuk mengunjungi taman tempat dia dan Andra sering duduk dan berbicara. Dia duduk di bangku yang sama, memandangi bunga-bunga yang mekar di sekitarnya, dan air mata mengalir di pipinya. Dia merindukan perasaan nyaman yang dia rasakan saat bersama Andra—perasaan bisa berbicara tentang apa saja tanpa takut dihakimi.

Pada saat yang sama, Andra kebetulan berjalan melewati taman tersebut. Melihat Nira duduk sendirian, dia mendekat dengan hati-hati. “Nira?” panggil Andra lembut.

Nira mendongak, terkejut melihat Andra. “Andra… apa kabar?” tanyanya, mencoba menyembunyikan air matanya.

“Aku baik, Nira. Kamu sendiri?” jawab Andra dengan suara yang penuh perhatian.

Nira tersenyum pahit. “Aku… tidak tahu, Andra. Aku merasa ada yang hilang dalam hidupku.”

Andra duduk di sampingnya, tidak mengatakan apapun, memberikan ruang bagi Nira untuk berbicara. Setelah beberapa saat, Nira mulai berbicara tentang perasaannya. Dia bercerita tentang bagaimana hubungannya dengan Arka terasa kosong, bagaimana dia merasa tidak ada kedalaman emosional.

Andra mendengarkan dengan seksama, hatinya merasakan hal yang tidak nyaman melihat Nira yang dulu ceria kini terasa seperti pura-pura.

“Nira, aku selalu ingin yang terbaik untukmu. Terkadang, kita harus melewati pengalaman sulit untuk memahami apa yang benar-benar kita butuhkan.” ucap Andra merespon kisah Nira.

Nira menatap Andra dengan air mata yang disembunyikan. “Apa yang harus aku lakukan, Andra? Aku merasa terjebak, bingung…”

Andra menghela napas dalam-dalam. “Hanya kamu yang bisa memutuskan apa yang terbaik untuk dirimu, Nira. Tapi ingatlah, kebahagiaan sejati datang dari kedalaman hubungan, dari perasaan nyaman dan saling mengerti.”

Setelah percakapan itu, Nira pulang dengan hati yang lebih ringan namun penuh dengan pertanyaan. Dia mulai berbicara lebih terbuka dengan Arka, berusaha membangun kedalaman yang dia rindukan. Proses itu tidak mudah, tetapi Nira bertekad untuk memperbaiki dan mendalami hubungannya.

Sementara itu, Andra melanjutkan hidupnya dengan lebih tenang, mengetahui bahwa dia telah melakukan yang terbaik untuk orang yang dia cintai. Meskipun dia dan Nira tidak bersama, dia berharap yang terbaik untuknya, dan mungkin suatu hari, mereka bisa menemukan kebahagiaan masing-masing, baik bersama orang lain atau dalam persahabatan yang sejati.


Beberapa tahun setelah pertemuan mereka di taman, Andra kembali tenggelam dalam kehidupannya sebagai seniman. Meski begitu, kenangan tentang Nira dan perasaannya masih mengisi sudut hatinya yang dalam. Suatu hari, Andra menghadiri pameran seni di kota. Di antara kerumunan, dia melihat Nira berdiri di depan salah satu lukisannya, wajahnya tampak suram.

Setelah ragu sejenak, Andra mendekatinya. “Nira, senang melihatmu di sini,” sapa Andra dengan lembut.

Nira tersenyum tipis. “Halo, Andra. Karyamu selalu mengagumkan.”

Mereka mulai berbicara, membicarakan hal-hal ringan, namun Andra merasa ada yang lebih dalam di balik senyuman Nira yang terlihat terpaksa. Saat mereka berbincang, Arka muncul, menyapa Andra dengan ramah dan menggandeng tangan Nira dengan erat. Raut wajah Nira tampak berubah, ada keengganan yang tersirat namun dia berusaha menyembunyikannya.

Beberapa minggu kemudian, tanpa sengaja, Andra menemukan buku catatan kecil milik Nira yang tertinggal di taman tempat mereka biasa bertemu. Di dalamnya, ada coretan-coretan dan puisi yang menggambarkan perasaan hati Nira. Salah satu catatan itu menarik perhatian Andra. Tulisan tangan Nira menggambarkan perasaannya yang terpendam:

Ada yang hilang dalam kebohongan yang tersembunyi,
Ada rasa yang tak tersentuh di balik senyuman yang dipaksakan.

Andra merasakan kekosongan yang mendalam dalam tulisan-tulisan itu. Dia mulai mengerti bahwa Nira menyimpan beban yang berat dalam hubungannya dengan Arka, meskipun dari luar terlihat baik-baik saja. Namun, dia juga memahami bahwa ada hal-hal yang Nira pilih untuk tidak diungkapkan sepenuhnya.

Meski begitu, Andra memutuskan untuk tidak mengkonfrontasi Nira. Dia tahu bahwa keputusan harus datang dari Nira sendiri. Waktu berlalu, dan Andra serta Nira tetap berhubungan sebagai teman. Setiap kali mereka bertemu, Andra bisa melihat bahwa Nira masih berjuang dengan perasaannya. Arka tetap berada di sisinya, namun ada kekosongan yang tidak bisa diisi.

Andra hanya bisa mendukung Nira dari kejauhan, memberikan dukungan emosional tanpa mengganggu pilihan hidupnya. Setiap kali mereka berbicara, Andra berharap Nira akan menemukan keberanian untuk mengambil langkah yang benar untuk dirinya sendiri, namun dia tahu bahwa ini adalah perjalanan yang harus dijalani Nira sendiri.

Hubungan Nira dan Arka tetap menjadi misteri bagi Andra dan orang-orang di sekitar mereka. Meskipun ada indikasi ketidakbahagiaan yang jelas, Nira tetap bertahan dalam hubungan tersebut. Mungkin karena harapan, mungkin karena ketakutan akan perubahan, atau mungkin karena dia masih percaya bahwa kebahagiaan bisa ditemukan kembali.

Andra hanya bisa berharap dan berdoa yang terbaik untuk Nira, sambil melanjutkan hidupnya sendiri. Dia belajar bahwa tidak semua kisah cinta berakhir dengan jawaban yang jelas. Terkadang, cinta itu sendiri adalah perjalanan yang penuh teka-teki, dengan jawaban yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang menjalani.

Eksplorasi konten lain dari Jim.my.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca