Semua akan RESIGN pada Waktunya

Siapa yang pernah baca “lelucon” Semua akan RESIGN pada Waktunya? Hihihi.. Tepat per 1 Agustus 2015 kemarin, saya resmi tidak masuk kantor lagi. Perasaan campur aduk, ada lega, ada cemas, ada excited (bahasa gaul dari “himung”) 😆

Pun demikian, tetap masih ada yang menganjal. Mengapa? Merasa sayang karena ijazah yang sudah susah payah diperoleh. Yah, mudah-mudahan nanti bisa bekerja kembali di dunia nyata. Sementara, fokus ke dunia maya dulu.

Gambar Semua akan RESIGN pada Waktunya
Resign | sumber: kompasiana.com dengan perubahan background

Di group Blogger Banua, seorang rekan bertanya “apa persiapan jika kita memilih resign dari pekerjaan sekarang (karyawan)? Sebelum menjawabnya, ada baiknya kita bertanya dahulu tentang “mengapa saya harus resign?”

Mengapa Saya harus RESIGN?

Ada banyak alasan jika pertanyaan di atas ditanyakan. Khusus saya pribadi, saya memilih resign karena ingin lebih banyak waktu berkumpul bersama keluarga. Nah, bagi Anda yang sedang binggung ingin mengikuti jejak saya (resign) atau tidak, silakan tanyakan 7 pertanyaan ini di dalam diri Anda. Jika ke semuanya sudah terjawab, Anda dapat dengan mudah menentukan ingin hengkang dari perusahaan atau tetap berjuang di perusahaan tersebut. Berikut pertanyaannya:

  1. Apakah di perusahaan tersebut ilmu Anda berkembang/bertambah? Datar-datar saja?
  2. Bagaimana lingkungan/suasana kerja di perusahaan Anda? Nyaman? Tidak nyaman?
  3. Apakah ada apresiasi bagi/atas pekerjaan yang -secara luar biasa- Anda kerjakan? Ada? Tidak ada? Biasa-biasa saja? Dinilai sama saja dengan pegawai lain?
  4. Apakah gaji yang diberikan perusahaan sudah sesuai dengan beban kerjanya? Ada uang lembur jika bekerja melebihi waktu?
  5. Apakah tunjangan untuk keluarga atau asuransi kesehatan yang diberikan memadai? memuaskan? kurang memuaskan? tidak memuaskan?
  6. Apakah diri Anda sudah mampu mengukur kemampuan diri sendiri jika kita keluar dari perusahaan? Sudah siap meninggalkan gaji, gelar dan posisi kita di perusahaan?
  7. Terakhir, jika ke-6 pertanyaan di atas membuat Anda ingin resign, maka Anda wajib bertanya “apa yang selanjutnya saya kerjakan?”

Persiapan yang harus disiapkan jika Resign

Dari beberapa buku yang pernah saya baca, setidaknya kita punya tabungan untuk hidup selama 1 tahun jika ingin memulai bisnis atau usaha sendiri. Semakin lama masa bertahan tabungan Anda, semakin baik. Tidak lupa meminta restu dari orang tua dan isteri/suami (jika ada) sebab, tanpa mereka kita bukan siapa-siapa saat ini.

Di samping sisi finansial, tentu mental juga harus disiapkan. Khusus saya sendiri, saya harus siap disebut “pengangguran” karena kerjaan saya hanya di rumah mantengin komputer/laptop. Mereka tidak tahu bahwa yang dipantengin dari pagi ke pagi lagi :mrgreen:

Kerjaan di Dunia Maya
Kerjaan di Dunia Maya, meski tidak ada “bos”, tetap harus ada target

Kedisiplinan dan fokus juga tidak boleh tertinggal. Jangan mentang-mentang “tidak ada bos”, jam kerja bisa seenaknya. Saya selalu berusaha kerja (baca: membuka laptop) pukul 8 pagi hingga saat jam istirahat pukul 12 siang. Nanti jam 13:30 atau jam 14:00 mulai lagi sampai jam 16:00 dari Senin sampai Jumat. Sabtu khusus untuk keluarga dan Minggu khusus untuk istirahat. Jam yang disebutkan tidak selalu baku. Flexibel saja, yang penting ada target yang ingin dicapai perhari, perminggu, perbulan, per3bulan, per6bulan, pertahun dst (ini saya dapat ilmunya saat ngantor di dunia nyata).

So, kapan Anda resign? 😛

31 COMMENTS

  1. Superrrrr, kak Jimi & kak Weni. Faboulus..faboulus ujar Upin Ipin, :). Selamat menuai $$. $$$/day ya kak.

    Uln selalu teringat kata kakak2 angkatan dan bapak ibu dosen farmasi unlam, bahwa “Tidak ada yg lebih mulia, baik itu adik tingkat/kakak tingkat, mahasiswa/dosen, karyawan/pengusaha, kecuali yg paling bertakwa kpd Alloh SWT .”

    Makasih kak, sekalih lagih….

    Faboulus…faboulus…jar Upin Ipin. Haha. 🙂

  2. Ulun hrs belajar banyak dari piyan dln hal keberanian dan serta strategi mempersiapkan kegiatan lain setelah resign.
    Lucunya rencana sdh bertahun2 tp bln jg ada action dlm bentuk apapun, miris emang

    • Terbalik pak, saya yang berterimakasih sudah sempat dididik dan diajari langsung bagaimana mengelola perusahaan (cabang) dengan baik 😉

      Sukses selalu untuk pak Yunif dan keluarga 🙂

  3. Keputusan yang bikin tercengang orang sekitar biasanya mun ky itu.
    Resign yang pian lakui mantap, kd sembarang resign tapi memang harus ada persiapan dan alasan yang tepat tuk resign supaya kedepannya bisa terkendali.
    Mudahan Makin sukses dengan Jalan yang baru. (Y)

    • Kalau bini sudah lama mendukung, menunggu restu dari orang tua yang agak lama (wajar, orang tua ingin yang terbaik bagi anak). Ini aja ada “petuah” sidin; ujar sidin “mun keluar dari perusahaan boleh aja, tapi kalau ada pendaftaran CPNS, daftarlah?” 😀

      Sip bro.. Aamiin.. Thanks doanya.. Sukses jua hagan usaha pian 😉

  4. Seperti saya yang telah resign dari kampus ketima memasuki semester 7 masa perkuliahan. Demi sebuah cita-cita diluar kapasitas saya sebagai seorang akademisi.. #Konyol
    Tapi, inilah saya… Saya senang menjalani, menikmati, menyusuri dan mensyukuri jalan ini. Salam blogger Bang Jimmy!

  5. Saya mah bukan resign tapi dipecat oleh perusahaan karena mendirikan serikat pekerja. Beruntung saya ditolak sana-sini melamar pekerjaan untuk posisi yang sama dengan gaji malah lebih rendah dari semula. Kini membuka usaha laundry dan belajar mulai ngeblog

Leave a Reply